Wednesday, June 11, 2014

Fisiologi Laktasi

Biologi Reproduksi
Fisiologi Laktasi

1.1 FISIOLOGI LAKTASI

Produksi  ASI(Prolaktin)
Pembentukan
payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19 minggu, dan berakhir ketika mulai menstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon esterogen dan progesteron yang membantu maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin berfungsi untuk produksi ASI.
Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga terjadi sekresi ASI. Pada proses laktasi terdapat dua reflek yang berperan, yaitu refleks prolaktin dan refleks aliran yang timbul akibat perangsangan puting susu dikarenakan isapan bayi.
1.              Refleks prolaktin
2.              Refleks aliran (let down reflek)
RefleksProlaktin
          Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, tetapi jumlah kolostrum terbatas dikarenakan aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang masih tinggi. Pasca persalinan, yaitu saat lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpus luteum maka estrogen dan progesteron juga berkurang. Hisapan bayi akan merangsang puting susu dan kalang payudara. Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus dan akan menekan pengeluaran faktor penghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor pemacu sekresi prolaktin. Faktor pemacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu. Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung. Pada ibu nifas yang tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2 – 3. Sedangkan pada ibu menyusui prolaktin akan meningkat dalam keadaan seperti: stress atau pengaruh psikis, anastesi, operasi dan rangsangan puting susu
Refleks Aliran(Let Down Reflek)

Bersamaan dengan pembentukan
prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang berasal dari isapan bayi dilanjutkan ke hipofise posterior (neurohipofise) yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini menuju uterus sehingga menimbulkan kontraksi. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat, keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktus dan selanjutnya mengalir melalui duktus lactiferus masuk ke mulut bayi.
Faktor-faktor yang meningkatkan let down adalah: melihat bayi, mendengarkan suara bayi, mencium bayi, memikirkan untuk menyusui bayi. Faktor-faktor yang menghambat reflek let down adalah stress, seperti: keadaan bingung/ pikiran kacau, takut dan cemas.
Refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi
1.              Refleks menangkap (rooting refleks)
2.              Refleks menghisap
3.              Refleks menelan
RefleksMenangkap(RootingRefleks)
          Timbul saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Bibir bayi dirangsang dengan papilla mamae, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha menangkap puting susu.
RefleksMenghisap(SuckingRefleks)
          Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh puting. Agar puting mencapai palatum, maka sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi. Dengan demikian sinus laktiferus yang berada di bawah areola, tertekan antara gusi, lidah dan palatum sehingga ASI keluar.
Refleks Menelan (Swallowing Refleks)
Refleks ini timbul apabila mulut
bayi terisi oleh ASI, maka ia akan menelannya.

          Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat pada glandula pituitaria posterior, sehingga keluar hormon oksitosin. Hal ini menyebabkan sel-sel miopitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong ASI masuk dalam pembuluh ampula. Pengeluaran oksitosin selain dipengaruhi oleh isapan bayi, juga oleh reseptor yang terletak pada duktus. Bila duktus melebar, maka secara reflektoris oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis.
1.2 AIR SUSU IBU
Pada saat menyusui, sekitar 1,5 liter susu mungkin dibentuk setiap hari. Banyak zat-zat metabolik dialirkan dari ibu, misalnya :  ± 50 gram lemak masuk susu setiap hari, dan kira-kira 100 gram laktosa, yang harus dibentuk dari glukosa hilang dari ibu setiap hari, 2-3 gram kalsium phosfat mungkin juga hilang setiap hari, dan kecuali bila ibu minum susu dalam jumlah besar dan mendapatkan masukan vitamin D yang cukup, pengeluaran kalsium dan fosfat oleh kelenjar mamae yang sedang laktasi akan jauh lebih besar daripada masukan zat-zat ini.

A.    ASI menurut Stadium Laktasi
ASI menurut stadium Laktasi adalah  sebagai berikut :
1.         Kolostrum

Merupakan cairan piscous kental dengan warna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan susu yang mature. Disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama sampai ketiga atau keempat. Komposisi dari kolostrum ini dari hari ke hari selalu berubah.

2.         Air susu masa peralihan
Ciri dari air susu pada masa peralihan adalah sebagai berikut :
a.                Peralihan ASI dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur.
b.               Disekresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi atau teori lain yang mengatakan bahwa ASI matur baru terjadi pada minggu ke-3 sampai minggu ke-5
c.                Kadar protein makin rendah, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin tinggi.
d.               Volumenya juga akan makin meningkat.
waktu
Protein*
Karbohidrat*
Lemak*
Hari ke-5
2,00
6,42
3,2
Hari ke-9
1,73
6,73
3,7
Hari ke-34
1,30
7,11
4,0
*dalam satuan gram/100 ml ASI
Table 2. volume ASI
3.            Air Susu Matur
Ciri dari air susu matur adalah sebagai berikut :
a)      ASI yang disekresikan pada hari ke-10 dan seterusnya, komposisi relatif konstan (ada pula yang mengatakan bahwa komposisi ASI relatif konstan baru dimulai pada minggu ke-3 sampai minggu ke-5).
b)      Pada ibu yang sehat, produksi ASI untuk bayi akan tercukupi. ASI merupakan makanan satu – satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai usia 6 bulan.
c)      Suatu cairan berwarna putih kekuning – kuningan yang diakibatkan warna dari garam Ca-caseinant, riboflavin, dan karoten yang terdapat didalamnya.
d)     Tidak menggumpal jika dipanaskan.
e)      Terdapat anti microbial factor.,
f)       Interferon producing cell.
g)      Sifat biokimia yang khas, kapasitas buffer yang rendah dan adanya factor bifidus.

Beberapa jenis ASI adalah sebagai berikut :
1.      Kolostrum, diproduksi pada beberapa hari pertama. Jenis air susu ibu ini sangat kaya protein dan antibody, serta sangat kental. Pada awal menyusui, kolostrum yang keluar mungkin hanya sesendok teh saja. Kolostrum melapisi usus bayi dan melindunginya dari bakteri.
2.      Foremilk, disimpan pada saluran penyimpanan dan keluar pada awal menyusui. Dihasilkan sangat banyak dan cocok untuk menghilangkan rasa haus bayi.
3.      Hindmilk, keluar setelah foremilk habis, saat menyusui hampir selesai. Jenis air susu ini sangat kaya, kental, dan penuh lemak bervitamin ; mirip dengan hidangan utama setelah sup pembuka. Bayi memerlukan foremilk dan hindmilk.

  Kebaikan ASI
Berikut adalah kebaikan ASI.
1.      Steril, aman dari pencenaran kuman.
2.      Selalu tersedia dengan suhu yang optimal.
3.      Produksi disesuaikan dengan kebutuhan bayi.
4.      Mengandung antibodi yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh kuman atau virus.
5.      Bahaya alergi tidak ada.
MANFAAT ASI BAGI BAYI
-          Komposisi sesui kebutuhan
-          Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan
-          ASI mengandung zat pelindung
-          Perkembangan psikomotorik lebih cepat
-          Menunjang perkembangan penglihatan
-          Memperkuat ikatan batn ibu dan bayi
MANFAAT ASI BAGI IBU
·                 Mencegah perdarahan pasca persalinan
·                 Mempercepat involusi uterus
·                 Mengurangi anemia
·                 Mengurangi risiko kanker ovarium & payudara
·                 Memberikan rasa dibutuhkan
·                 Mempercepat kembali ke berat semula
·                 Sebagai metoda KB sementara
MANFAAT ASI BAGI KELUARGA
·                 Mudah pemberiannya
·                 Menghemat biaya
·                 Anak sehat, jarang sakit

1.3 PRODUKSI AIR SUSU
Proses laktasi merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks antara ransangan mekanik, saraf, dan bermacam-macam hormone.  Salah satunya pembentukan kelenjar payudara,
A.     Pembentukan Kelenjar Payudara 
Pembentukan Kelenjar Payudara dibagi menjadi beberapa antara lain sebagai berikut:
1.      Sebelum Pubertas
Duktus primer dan sekunder sudah terbentuk pada masa fetus. Mendekati pubertas terjadi pertumbuhan yang cepat dari sistem duktus terutama dibawah pengaruh hormon estrogen, sedangkan pertumbuhan alveoli oleh hormon progesteron. Hormon yang ikut berperan dalam pertumbuhan kelenjar payudara adalah prolaktin yang dikeluarkan oleh kelenjar adenohipofisis (hipofisis anterior). Hormon yang kurang peranannya adalah hormon adrenalin, tiroid, paratiroid, dan hormon pertumbuhan.

2.      Masa pubertas
Pada masa ini terjadi pertumbuhan percabangan – percabangan sistem duktus, proloferasi, dan kanalisasi dari unit – unit lobuloalveolar yang terletak pada ujung – ujung distal duktulus. Jaringan penyangga stroma mengalami organiosasi dan membentuk septum interlobular.

3.      Masa siklus menstruasi
Perubahan – perubahan kelenjar payudara wanita dewasa berhubungan dengan siklus menstruasi dan perubahan – perubahan hormonal yang mengatur siklus tersebut seperti estrogen dan progesteron yang dihasilkan korpus luteum. Bila kadar hormon ini meningkat, maka akan terjadi edema lobulus, penebalan dari basal membran epitel dan keluarnya bahan dalam alveoli. Secara klinis akan dirasakan payudara berat dan penuh. Setelah menstruasi, dimana kadar estrogen dan progesteron berkurang, yang berperan hanya prolaktin saja, terjadi degenerasi dari sel – sel kelenjar air susu beserta jaringan yang mengalami proliferasi, edema berkurang sehingga besarnya payudara berkurang namun tidak kembali seperti besar selanjutnya. Hal ini menyebabkan payudara selalu bertambah besar pada setiap siklus ovulasi mulai dari permulaan tahun menstruasi sampai umur 30 tahun.

4.      Masa kehamilan
Pada permulaan kehamilan terjadi peningkatan yang jelas dari duktus yang baru, percabangan – percabangan dan lobulus, yang dipengaruhi oleh hormon - hormon plasenta dan korpus luteum. Hormon – hormon yang ikut membantu mempercepat pertumbuhan adalah prolaktin, laktogem plasenta, korionik gonadotropin, insulin, kortisol, hormon tiroid, hormon paratiroid dan hormon pertumbuhan.
5.      Pada 3 bulan kehamilan
Prolaktin dari adenohipofisis (hipofisis anterior) mulai merangsang kelenjar air susu untuk menghasilkan air susu yang disebut kolostrum. Pada masa ini, pengeluaran kolostrum masih dihambat oleh estrogen dan progesteron, tetapi jumlah prolaktin meningkat, hanya aktivitas dalam pembuatan kolostrum yang ditekan.
6.      Pada trimester kedua kehamilan
Laktogen plasenta mulai memacu produksi asi.
Proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI dinamakan laktasi, sedangkan ASI adalah cairan dengan komposisi khas untuk menjamin pertumbuhan optimal pada tiap spesies. Ketika bayi menghisap payudara, hormon yang bernama oksitosin membuat ASI mengalir dari dalam alveoli melalui saluran susu menuju ke reservoir susu yang berlokasi dibelakang areola lalu kedalam mulut bayi. Pengaruh hormonal bekerja mulai dari bulan ketiga kehamilan dimana tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara.
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak, serta berkembangnya kelenjar – kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit. Segera setelah terjadi kehamilan, maka korpus luteum berkembang terus dan mengeluarkan estrogen dan progesteron untuk mempersiapkan payudara agar pada waktunya dapat memberikan ASI.

1.4 Hormon yang Mempengaruhi Pembentukan ASI
Hormon-hormon yang mempengaruhi pembentukan ASI adalah sebagai berikut :
1. Progesteron
 Mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Tingkat progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi secara besar-besaran.
2. Estrogen
 menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Tingkat estrogen menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui. Karena itu, sebaiknya ibu menyusui menghindari KB hormonal berbasis hormon estrogen, karena dapat mengurangi jumlah produksi ASI.
3.  Pralaktin
Berperan dalam membesarnya alveoil dalam kehamilan. Dalam fisiologi laktasi, prolaktin merupakan suatu hormone yang disekresikan ole glandula pituitary. Hormone ini memiliki peranan penting untuk memproduksi ASI, kadar hormone ini meningkat selama kehamilan. Kerja hormone ini dihambat oleh hormone plasenta. Pristiwa lepas atau keluarnya plasenta pada akhir proses persalinan akan membuat kadar estrogen dan progesterone berangsur-angsur menurun sampai tingkat dapat dilepaskan dan diaktifkannya prolaktin. Peningkatan kadar prolaktin akan menghambat ovulasi dengan kata lain mempunyai fungsi kontrasepsi. Kadar prolaktin paling tinggi adalah pada malam hari dan penghentian pertama pemberian air susu dilakukan pada malam hari.
4.  Oksitosin
Hormone ini mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Setelah melahirkan, oksitosin juga mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let-down / milk ejection reflex.

5.  Human placental lactogen (HPL)
          Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta mengeluarkan banyak HPL, yang berperan dalam pertumbuhan payudara, puting, dan areola sebelum melahirkan. Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Namun, ASI bisa juga diproduksi tanpakehamilan (induced lactation).
1.5  Proses Pembentukan Laktogen
- Laktogenesis I         
Pada fase terakhir kehamilan, payudara wanita memasuki fase Laktogenesis I. Saat itu payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental yang kekuningan. Pada saat itu, tingkat progesteron yang tinggi mencegah produksi ASI sebenarnya. Tetapi bukan merupakan masalah medis apabila ibu hamil mengeluarkan (bocor) kolostrum sebelum lahirnya bayi, dan hal ini juga bukan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI sebenarnya nanti.
- Laktogenesis II
          Saat melahirkan, keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat hormon progesteron, estrogen, dan HPL secara tiba-tiba, namun hormon prolaktin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran yang dikenal dengan fase Laktogenesis II.
          Apabila payudara dirangsang, level prolaktin dalam darah meningkat, memuncak dalam periode 45 menit, dan kemudian kembali ke level sebelum rangsangan tiga jam kemudian. Keluarnya hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI, dan hormon ini juga keluar dalam ASI itu sendiri. Penelitian mengindikasikan bahwa level prolaktin dalam susu lebih tinggi apabila produksi ASI lebih banyak, yaitu sekitar pukul 2 pagi hingga 6 pagi, namun level prolaktin rendah saat payudara terasa penuh.
            Hormon lainnya, seperti insulin, tiroksin, dan kortisol, juga terdapat dalam proses ini, namun peran hormon tersebut belum diketahui. Penanda biokimiawi mengindikasikan bahwa proses laktogenesis II dimulai sekitar 30-40 jam setelah melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru merasakan payudara penuh sekitar 50-73 jam (2-3 hari) setelah melahirkan. Artinya, memang produksi ASI sebenarnya tidak langsung setelah melahirkan.
          Kolostrum dikonsumsi bayi sebelum ASI sebenarnya. Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi yang tinggi daripada ASI sebenarnya, khususnya tinggi dalam level immunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan . Dalam dua minggu pertama setelah melahirkan, kolostrum pelan pelan hilang dan tergantikan oleh ASI sebenarnya.
-Laktogeneses III
          Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem kontrol autokrin dimulai. Fase ini dinamakan Laktogenesis III. Pada tahap ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan banyak pula. Penelitian berkesimpulan bahwa apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga akan meningkatkan taraf produksi ASI. Dengan demikian, produksi ASI sangat dipengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi menghisap, dan juga seberapa sering payudara dikosongkan.
            Produksi ASI yang rendah adalah akibat dari: Kurang sering menyusui atau
memerah payudara dan memijat payudara. Apabila bayi tidak bisa menghisap ASI secara efektif, hal ini dapat diakibatkan oleh  struktur mulut dan rahang yang kurang baik, teknik perlekatan yang salah, kelainan endokrin ibu (jarang terjadi), jaringan payudara hipoplastik, kelainan metabolisme atau pencernaan bayi, sehingga tidak dapat mencerna ASI, serta kurangnyagiziibu.
            Menyusui setiap dua-tiga jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi. Untuk wanita pada umumnya, menyusui atau memerah ASI delapan kali dalam 24 jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi pada masa-masa awal menyusui, khususnya empat bulan pertama. Bukanlah hal yang aneh apabila bayi yang baru lahir menyusui lebih sering dari itu, karena rata-ratanya adalah 10-12 kali menyusui tiap 24 jam, atau bahkan 18 kali. Menyusui on-demand adalah menyusui kapanpun bayi meminta (artinya akan lebih banyak dari rata-rata) adalah cara terbaik untuk menjaga produksi ASI tetap tinggi dan bayi tetap kenyang . Tetapi perlu diingat, bahwa sebaiknya menyusui dengan durasi yang cukup lama setiap kalinya dan tidak terlalu sebentar, sehingga bayi menerima asupan foremilk dan hindmilk secara seimbang .
1.6  Penghambat Produksi ASI
Penghambat Produksi ASI adalah sebagai berikut :
1. Feedback inhibitor : Suatu faktor lokal, bila saluran ASI penuh mengirim impuls untuk mengurangi produksi.
Cara mengatasi : saluran dikosongkan secara teratur (ASI eksklusif dan tanpa jadwal).
2. Stress / rasa sakit : akan menghambat atau inhibisi pengeluaran oksitosin. Misalnya pada saat Sinus laktiferus penuh/payudara sudah bengkak
3. Penyapihan
kriteria yang digunakan untuk mengetahui jumlah ASI cukup atau tidak adalah sebagai berikut :
1.      ASI yang banyak dapat merembes keluar melalui putting susu.
2.      Sebelum disusukan pada bayi, payudara terasa tegang.
3.      Berat badan bayi naik sesuai dengan umur.

Kenaikan berat badan dihubungkan dengan usia bayi
USIA BAYI
KENAIKAN BERAT BADAN RATA-RATA
1-3 bulan
700 gr / bulan
5 bulan
Dua kali berat badan waktu lahir
4-6 bulan
600 gr / bulan
7-9 bulan
400 gr / bulan
10-12 bulan
300 gr / bulan
1 tahun
Tiga kali berat badan waktu lahir
Table 1 kenaikan berat badan berdaraskan usia bayi
4.      Jika ASI cukup, seterlah menyusu bayi akan tidur atau tenang selama 3-4 jam.
5.      Bayi berkemih sekitar 8 kali sehari.

Dua tanda yang menunjukkan bahwa bayi kurang mendapat cukup ASI adalah sebagai berikut :
1.      Urine bayi berwarna kekuningan pekat, berbau tajam, dan jumlahnya sedikit. Bayi BAK kurang dari 6x sehari, keadaan ini menunjukkan bayi kekurangan cairan yang berasal dari ASI.
2.      Perkembangan berat badan bayi kurang dari 500 gr / bulan dan ini menunjukkan bayi kurang mendapat asupan yang baik selama 1 bulan terakhir. Apabila diberikan  ASI secara eksklusif (0-6 bulan) dapat mencukupi semua kebutuhan bayi.
Komposisi ASI tidak konstan dan tidak sama dari waktu kewaktu, yang dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu sebagai berikut :
1.      Stadium Laktasi
2.      Ras
3.      Keadaan Nutrisi,
4.      Diet.
1.7 PENGELUARAN AIR SUSU

 Bagimana payudara menghasilakan ASI, dimulai saat bayi menghisap payudara dan menstimulasi ujung saraf. Saraf memerintahkan oyak untuk mengeluarkan dua hormone yaitu prolaktin dan oksitosin. Prolaktin merangsang alveoli, untuk menghasilkan lebih banyak air susu. Oksitosin menyebabkan sel-sel otot disekitar alveoli berkontraksi, mendorong air susu masuk kesaluran penyimpanan, dan akhirnya bayi dapat menghisapnya. Semakin bayi menghisap, semakin banyak susu yang dihasilkan.
            Selama kehamilan hormone prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar karena pengaruh hormone estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesterone akan menurun pada saat hari ke dua atau ke tiga pasca-persalinan sehingga terjadi sekresi ASI. Pada proses laktasi terdapat dua reflek yang berperan, yaitu reflek prolaktin dan reflek aliran yang timbul akibat perangsangan putting susu dikarenakan hisapan bayi.

A. Refleks Prolaktin
Pada akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, namun jumlah kolostrum terbatas karena aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang kadarnya memang tinggi. Setelah partus berhubung lepasnya plasenta dan kurang berfungsinya korpus luteum maka estrogen dan progesterone sari-at berkurang, ditambah dengan adanya isapan bayi yang merangsang puting susu dan kalang payudara, akan merangsang ujung - ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.
Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor - faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor - faktor yang memacu sekresi prolaktin. Faktor - faktor yang memacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin. Hormone ini merangsang sel - sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu.
Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung. Pada ibu yang melahirkan anak tetapi tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2 - 3. pada ibu yang menyusui prolaktin akan meningkat dalam keadaan seperti :
o Stress atau pengaruh psikis
o Anastesi
o Operasi
o Rangsangan puting susu
B. Reflek Let down
Bersama dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang berasal dari isapan bayi ada yang dilanjutkan ke hipofise posterior ( neurohipofise ) yang kemudian dikeluarkan oksitosin.
Melalui aliran darah, hormone ini diangkat menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadi involusi dari organ tersebut. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk ke system duktus dan selanjutnya menbalir melalui duktus lactiferus masuk ke mulut bayi.
Faktor - faktor yang meningkatkan let down adalah :
- Melihat bayi
- Mendengarkan suara bayi
- Mencium bayi
- Memikirkan untuk menyusui bayi
Faktor - faktor yang menghambat reflek let down adalah stress, seperti:
- Keadaan bingung / pikiran kacau, Takut,Cemas
 MEKANISME MENYUSUI
Beri yang sehat mempunyai tiga refleks intrinsic yang dibutuhkan agar menyusui berhasil.
a. Reflek mencari ( Rooting Reflex }
Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut merupakan rangsangan yang menimbulkan reflek mencari pada bayi. Ini menyebabkan kepala bayi berputar menuju putting susu yang menempel tadi diikuti dengan membuka mulut dan kemudian putting susu ditarik masuk ke dalam mulut.
b. Reflek menghisap ( Sucking Reflex )
Putting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan bantuan lidah, putting susu ditarik lebih jauh dan rahang rnenekan kalang payudara dibelakang putting susu yang pada saat itu sudah terletak pada langit - langit keras. Dengan tekanan bibir dan gerakan rahang secara berirama, maka gusi akan menjepit kalang payudara dan sinus laktiferus, sehingga air susu akan mengalir ke puting susu, selanjutnya bagian belakang lidah menekan putting susu pada langit - langit yang mengakibatkan air susu keluar dari putting susu. Cara yang dilakukan oleh bayi, tidak akan menimbulkan cedera pada putting susu.
c. Reflek menelan (swallowing reflek )
Pada saat air susu keluar dari putting susu, akan disusul dengan gerakan menghisap yang ditimbulkan oleh otot - otot pipi, sehingga pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung. Keadaan akan berbeda bila bayi diberi susu botol dimana rahang mempunyai peranan sedikit di dalam menelan dot botol, sebab susu mengalir dengan mudah dari lubang dot. Dengan adanya gaya berat, yang disebabkan oleh posisi botol yang dipegang kearah bawah dan selanjutnya dengan adanya isapan pipi, yang semuanya ini akan membantu aliran susu, sehingga tenaga yang diperlukan oleh bayi untuk menghisap susu menjadi minimal.
Kebanyakan bayi - bayi yang masih baru lahir belajar menyusu pada ibunya, kemudian dicoba pada susu botol yang bergantian, maka bayi tersebut akan menjadi bingung puting. Sehingga sering bayi menyusu pada ibunya, cara menyusu seperti menghisap dot botol, keadaan ini berakibat kurang baik dalam pengeluaran air susu ibu. Oleh karena itu, jika bayi terpaksa tidak bisa langsung disusui oleh ibunya pada awal kehidupan, sebaiknya bayi diberi minum melalui sendok, cangkir, atau pipet, sehingga bayi tidak mengalami bingung puting.




BAB IV
PEMELIHARAAN LAKTASI
Ketersediaan ASI pada ibu menyusui berlangsung sesuai kebutuhan. Bila bayi tidak disusui, maka ASI tidak akan keluar. Makin sering disusui, maka penyediaan ASI juga makin baik. Factor penting untuk pemeliharaan laktasi adalah ransangan dan pengosongan payudara secara sempurna.

Adapun dalam pemeliharaan laktasi terdapat dua faktor penting yaitu:
1. Rangsangan
Bayi yang minum air susu ibu perlu sering menyusu, terutama pada hari neonatal awal. Penting bahwa bayi’difiksasi’ pada payudara dengan posisi yang benar apabila diinginkan untuk meningkatkan rangsangan yang tepat. Rangsangan gusi bayi sebaiknya berada pada kulit areola, sehingga tekanan diberikan kepada ampulla yang ada di bawahnya sebagai tempat tersimpannya air susu. Dengan demikian bayi minum dari payudara, dan bukan dari papilla mammae.
Sebagai respons terhadap pengisapan, prolaktin dikeluarkan dari grandula pituitaria anterior, dan dengan demikian memacu pembentukan air susu yang lebih banyak. Apabila karena suatu alasan tertentu bayi tidak dapat menyusu sejak awal, maka ibu dapat memeras air susu dari payudaranya dengan tangan atau menggunakan pompa payudara. Tetapi pengisapan oleh bayi akan memberikan rangsangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kedua cara tersebut.
2. Pengosongan payudara secara sempurna
Bayi sebaiknya mengosongkan satu payudara diberikan payudara yang lain. Apabila bayi tidak mengosongkan payudara yang kedua, maka pada pemberian air susu yang berikutnya payudara yang kedua ini yang diberikan pertama kali, atau bayi mungkin sudah kenyang dengan satu payudara, maka payudara yang kedua digunakan pada pemberian air susu berikutnya. Apabila diinginkan agar bayi benar-benar puas (kenyang), maka bayi perlu diberikan baik air susu pertama (fore-milk) maupun air susu kedua (hind-milk) pada saat sekali minum. Hal ini hanya dapat dicapai dengan pengosongan sempurna pada satu payudara.
Apabila air susu yang diproduksi tidak dikeluarkan, maka laktasi akan tertekan (mengalami hambatan) karena terjadi pembengkakan alveoli dan sel keranjang tidak dapat berkontraksi. ASI tidak dapat dipaksa masuk kedalam duktus laktiverus. Rutinitas dan pola minum ASI akan terbentuk dengan sendirinya.

Produksi ASI yang rendah dapat disebabklan oleh hal – hal berikut ini :
1.         Kurang sering menyusui.
2.         Apabila bayi tidak bisa menghisap ASI secara efektif, bias disebabkan :
a)      Struktur mulut dan rahang yang kurang baik;
b)      Teknik perlekatan yang salah;
c)      Kelainan endokrin ibu (jarang terjadi)
d)     Jaringan payudara hipoplastik;
e)      Kelainan metabolism atau pencernaan bayi, sehingga tidak dapat mencerna ASI.

3.      Kurangnya gizi ibu
Factor – factor yang mempengaruhi produksi ASI adalah sebagai berikut :
a)      Frekwensi pemberian susu.
b)      Berat bayi saat lahir.
c)      Usia kehamilan saat melahirkan.
d)     Usia ibu dan paritas
e)      Stress dan penyakit akut.
f)       Mengonsumsi rokok
g)      Mengonsumsi alcohol
h)      Pil kontrasepsi

BAB V
Pembentukan dan Persiapan ASI
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan aerola mamae makin menghitam.
Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan :
1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
2. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi.
Lama dan frekuensi menyusui
Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian.
Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.
Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara. Pesankan kepada ibu agar berusaha menyusui sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. Setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan. Selama masa menyusui sebaiknya ibu menggunakan kutang (BH) yang dapat menyangga payudara, tetapi tidak terlalu ketat.



BAB VI
PENUTUP

A.   Kesimpulan
ASI ( Air Susu Ibu) adalah emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan garam-garam organik yang disekserikan oleh kedua belah kelenjar payudara Ibu, sebagai makanan utama bagi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
Suatu proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI yang membutuhkan calon ibu yang siap secara psikologis dan fisik, kemudian bayi yang telah cukup sehat untuk menyusu, serta produksi air susu yang telah disesuaikan dengan kebutuhan bayi, dimana volume ASI 500-800ml/hari disebut laktasi.
Seperti yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya banyak hal yang mempengaruhi proses laktasi dimulai dari proses produksinya, sekresinya, serta pengeluaran ASI yang pada akhirnya sampai dimulut bayi yang digunakan untuk tumbuh kembangnya, sesuai dengan kebutuhan bayi.

B.  Saran

Karena ASI sangat penting bagi bayi maka ibu harus senantiasa merawat payudara sebab payudara yang terawat dapat mendukung produksi ASI yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi.
Bagi Ibu maupun calon ibu sebaiknya mengetahui kandungan ASI dan cara menyusui yang baik dan benar dan hal tersebut dapat ditanyakan kepada Bidan ataupun dokter kandungan agar dapat memenuhi kebutuhan bayi.







DAFTAR PUSTAKA

Coad, Jane, dan Melvyn Dunstall.2006. Anatomi dan fisiologi untuk Bidan. Jakarta : EGC
Verralls, Sylvia. 1997.Anatomi & Fisiologi Terapan dalam Kebidanan. Jakarta : EGC
Wulandari, Ayu Febri. 2011. Biologi Reproduksi.Jakarta : Salemba Medika. (Diakses tanggal 27 Mei 2011)
http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/09/19/prolaktin-hormon-yang-menghasilkan-asi
http://www.f-buzz.com/2008/05/21/kelebihan-air-susu-ibu-asi-dan-manfaat-menyusui
http://bidanku.com/index.php?/Dashyatnya-Manfaat-Air-Susu-Ibu-ASI
http://www.f-buzz.com/2008/08/05/posisi-menyusui-yang-baik
http://aku-anak-peternakan.blogspot.com/2008/05/fisiologi-laktasi.html
http://sobatbaru.blogspot.com/2009/02/anatomi-payudara-dan-fisiologi-laktasi.html
http://botefilia.com/index.php/archives/2009/01/10/asi-laktasi
http://www.lusa.web.id/proses-laktasi/
http://www.akubidan.com/index.php?p=elearning&mod=yes&aksi=lihat&id=42